Mutasi ke Polda Jatim, Ini Catatan Emas Prestasi Irjen Pol. Nico Afinta

Ads Pemkot Makassar

Banjarmasin, RAKYAT SULAWESI Pol Nico Afinta, resmi tidak lagi menjabat sebagai Ka Kalimantan Selatan terhitung sejak hari Jumat (20/11/2020). Nico Afinta dipercaya menempati jabatan baru sebagai Ka Jawa Timur ().

“Selama kita menjadi anggota Polri, selama kita mendapatkan Skep, dimana pun kita bertugas yang paling diingat apa tugas saya, kewenangan apa yang diberikan kepada saya supaya tugas itu tercapai. Lalu kepada siapa saya harus bertanggung jawab,” kata Nico saat menyampaikan Tugas Wewenang dan Tanggung Jawab (TWT) dalam acara pisah sambut dengan anggota Kalimantan Selatan, Sabtu (21/11/2020).

Meski terbilang singkat, hanya 6 bulan 19 hari menjabat Ka Kalsel, namun dia mengungkapkan hal itu sudah menjadi konsekuensi sebagai anggota Polri yang siap di tempatkan dimana saja dan kapan saja.

“Apa yang dilakukan anggota baik untuk organisasi maupun lingkungannya sekecil apapun itu sudah cukup bagi saya sepanjang TWT dilaksanakan. Misal ada anggota lihat sampah di jalan dipungut, itu sudah cukup bagi saya,” ucap dia.

Selama menjabat Ka Kalsel, Nico terukir indah khususnya saat pengungkapan 300 Kg sabu pada 6 Agustus 2020 lalu.

Sejak awal memegang tongkat komando tertinggi Kalsel pada Mei 2020, Nico memang menargetkan berantas habis peredaran narkoba kelas kakap seperti pengungkapan 208 Kg sabu dan 53,9 ribu butir lebih ekstasi asal Malaysia pada 13 Maret 2020 sebelum dia masuk.

Nico kemudian membentuk tim khusus, dikomando AKBP Budi Hermanto saat itu sebagai Wakil Direktur Reserse Narkoba Kalsel.

Tidak hanya diperkuat anggota Direktorat Reserse Narkoba Kalsel, tim juga berisi Satuan Tugas Khusus Merah Putih Bareskrim Polri dan Direktorat Reserse Narkoba Metro Jaya, usai Nico menyampaikan rencana pengungkapan besar tersebut kepada Kapolri Jenderal Idham Azis dan Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo.

Hasilnya, tim gabungan dibentuk menelusuri jaringan peredaran narkotika antar negara yang menjadikan Kalimantan Selatan sebagai pasarnya.

Lima bulan berselang, tim bekerja mengendus jalur masuk narkotika dari Malaysia ke Pulau Kalimantan. Kurang dari satu bulan terakhir sebelum pengungkapan, polisi berhasil mendeteksi rencana masuknya sabu-sabu ke Kalimantan Selatan dari jalur Malaysia dengan rute perbatasan antar negara di Kalimantan Utara.

Tepat tanggal 4 Agustus 2020, barang haram itu masuk di Kalimantan Utara, namun digagalkan hingga polisi berhasil mengamankan dua orang pembawa barang haram tersebut. Dari pengakuan tersangka, sabu-sabu dibawa ke Banjarmasin.

Kemudian, dua hari berikutnya kembali diamankan dua orang di Banjarmasin sebagai penerima, sehingga total ada empat tersangka dari penyelundupan 3 kwintal sabu-sabu itu yang tertangkap.

Aksi menggagalkan penyelundupan narkotika dalam jumlah fantastis inipun mencatatkan rekor terbesar di luar Pulau Jawa hingga mendapatkan penghargaan dari Gubernur Kalimantan Selatan dan Ketua DPRD Kalsel.

Banjir Penghargaan
Keberhasilan Nico ini melanjutkan manisnya pernah sukses mengungkap tangkapan satu ton narkotika jenis sabu-sabu yang diselundupkan dari Guangzhou, Cina ke Indonesia melalui Dermaga eks Hotel Mandalika, Anyer, Serang, Banten ketika menjabat Direktur Reserse Narkoba Metro Jaya tahun 2017.

Kemudian, saat menjadi Direktur Reserse Kriminal Umum Metro Jaya tahun 2018, Nico memimpin pengungkapan kasus pencurian dana nasabah bank atau skimming hingga keberhasilan ini mendapat penghargaan Law Enforcement Award dari Visa Risk Security Summit 2018 di Singapura.

Lebih lagi, alumni Akpol 1992 ini juga mendorong upaya pencegahan digencarkan agar masyarakat semakin sadar dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya dalam ancaman bahaya peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Nico menginisiasi gelaran webinar edukasi bahaya narkoba pertama di Indonesia selama pandemi Covid-19 pada 7 Oktober 2020 lalu hingga meraih penghargaan dari Lembaga Indonesia – Dunia (Leprid).

Sosok Nico juga terbukti piawai dalam menghadapi situasi genting seperti aksi unjuk rasa mahasiswa terkait Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) di Banjarmasin pada 15 Oktober 2020 yang berlangsung hingga larut malam melebihi batas waktu menyampaikan pendapat di muka umum.

Massa yang memaksa tidak mau membubarkan diri dihadapi Nico dengan tenang. Bukan pembubaran paksa dengan kekerasan, namun menemui mahasiswa dan mengajak diskusi yang dilakukannya sembari duduk di tengah jalan.

Bahkan, dia meminta mundur aparat agar menjauhi massa aksi demo hingga pada akhirnya masa aksi dari mahasiswa membubarkan diri secara tertib jelang tengah malam tanpa aksi refresif sedikit pun.

Pengamat sosial dan politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr H Budi Suryadi menyatakan ketenangan Nico jelas teruji ketika menghadapi massa mahasiswa.

Menurut dia, kehadiran sosok Ka di saat tepat seperti yang diimpikan dalam desain negara modern. Dimana lebih menggunakan pendekatan humanis dan preventif dibandingkan pendekatan kekerasan, sehingga demonstrasi di Kalsel tidak berakhir anarkis seperti daerah lain.

Dia menilai, Ka Nico memegang prinsip jika semua masalah bisa dipecahkan dengan komunikasi yang baik. Meski di satu sisi ada Undang-Undang soal penyampaian aspirasi di muka umum yang telah dilanggar namun dia tetap tak mau gegabah mengambil tindakan refresif sepanjang masih bisa diupayakan persuasif dan humanis.

Tiga Program Prioritas
Di awal masa jabatannya sebagai Ka Kalsel, Nico membawa tiga program utama yang jadi fokusnya yaitu penanganan Covid-19, penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengamanan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020.

Dalam penanganan Covid-19, ada lima program strategis yang digelorakannya yaitu penambahan kapasitas tes polymerase chain reaction (PCR), kapasitas rumah sakit dan tempat isolasi, pembentukan Kampung Tangguh Banua, operasi penegakan disiplin serta efisiensi anggaran.

Kalsel melalui Rumah Sakit Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso Banjarmasin mampu menguji sampel tes PCR untuk Covid-19 sebanyak 150 orang perhari menunjang percepatan penanganan Covid-19 di Kalimantan Selatan.

Nico juga menyiapkan SPN Kalsel di Banjarbaru dan Mako Direktorat Polisi Perairan dan Udara yang baru di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar siap dijadikan tempat karantina bagi pasien Covid-19 jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Polisi kelahiran Surabaya ini memastikan penanganan Covid-19 berjalan sesuai harapan dengan terus meningkatnya angka kesembuhan dan peningkatan jumlah pasien baru berhasil ditekan.

Operasi yustisi penegakan protokol kesehatan dengan sasaran kegiatan, tempat dan orang juga terus dilakukan Kalsel dengan Tim Pedas-nya bersama petugas gabungan TNI-Polri dan Satpol PP.

Diharapkan kepatuhan masyarakat semakin meningkat dengan selalu pakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan agar rantai penyebaran COVID-19 dapat diputus secepatnya.

Termasuk melalui lebih dari 200 Kampung Tangguh Banua yang berdiri di Kalsel sebagai upaya menggelorakan kepatuhan protokol kesehatan di lingkup terkecil dan mewujudkan desa mandiri tahan terhadap dampak ekonomi dari pandemi.

Dalam penanggulangan karhutla, Nico membentuk Satgas Karhutla Kalsel berkekuatan 170 personel Kalsel dan 663 personel Polres jajaran.

Kalsel juga punya aplikasi Bekantan (Berantas kebakaran hutan dan lahan) yang menjadi sarana masyarakat ikut berperan aktif dalam upaya mencegah dan menanggulangi karhutla.

Personel seketika mendapatkan notifikasi jika ada laporan di wilayahnya terjadi karhutla melalui aplikasi Bekantan yang diinformasikan oleh masyarakat.

Nico mengecek langsung kanal-kanal yang menjadi sumber air jika terjadi karhutla di musim kemarau serta memimpin beberapa kali simulasi penanggulangan sebagai bentuk kesiapsiagaan jajarannya membantu penanggulangan karhutla.

Meski pada akhirnya, karhutla tidak terjadi sebesar tahun lalu lantaran hujan yang kerap masih mengguyur di musim kemarau hingga tiba musim hujan saat ini.

Sedangkan dalam pengamanan pilkada yang berlangsung di lima kabupaten dan dua kota serta pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kalsel tahun ini, Nico melakukan pendekatan ke semua tokoh masyarakat dan agama termasuk tokoh politik agar sama-sama membangun rasa kebersamaan demi menjaga kondusifitas wilayah aman dan damai.

“Pilihan politik boleh berbeda itu hal wajar dalam demokrasi. Namun persaudaraan tetap hal utama. Jadi, sambutlah pilkada ini dengan hati riang gembira tanpa rasa benci dan permusuhan. Siapa pun yang terpilih mari kita dukung sebagai pemimpin daerah pilihan mayoritas rakyat,” pesan Nico.

Namun sebelum pilkada berlangsung 9 Desember 2020 mendatang, Nico sudah keburu di dengan mendapatkan promosi jabatan sebagai Ka Jawa Timur, sebuah bergengsi di Indonesia.

Dia memohon doa restu kepada seluruh personel Kalsel dan masyarakat Banua Kalimantan Selatan agar pelaksanaan tugas berikutnya dapat berjalan lancar dan senantiasa dapat memberikan yang terbaik bagi institusi Polri sebagaimana yang telah dilakukannya di Kalsel dengan penuh .

Gandeng Ulama
Sejumlah tokoh agama kharismatik di Kalimantan Selatan mengaku terkesan dengan sosok Pol Nico Afinta yang dinilai dekat dengan alim ulama di Bumi Lambung Mangkurat.

“Alhamdulilah Pak Nico sangat bersahaja dan merangkul ulama dalam tugasnya. Kami doakan beliau senantiasa sukses dimana pun bertugas,” ucap Guru H Sadudin Salman selaku Imam Musholla Ar-Raudah Sekumpul di Martapura, Kabupaten Banjar.

Menurut Sadudin Salman, sosok Nico telah berhasil menjaga hubungan harmonis semua unsur di masyarakat. Berkat kepemimpinannya, situasi kamtibmas Kalimantan Selatan terjaga sangat kondusif.

“Beliau sangat humanis bersikap begitu pula instruksinya ke jajaran. Meski sangat singkat di sini, namun dapat memberikan kesan baik bagi Kalsel termasuk kalangan ulama,” katanya.

Senada disampaikan KH Wildan Salman. Pemimpin Madrasah Darussalam Tahfidz dan Ilmu Al Quran Martapura ini mengucapkan terima kasih atas pola kepemimpinan Nico yang merangkul ulama.

“Kalimantan Selatan dikenal daerah yang sejuk dan kondusif. Kehadiran beliau berhasil mempertahankan itu. Semoga karir Pak Nico terus meningkat dan berkah pastinya,” tutur ulama yang akrab disapa Guru Wildan itu.

Penulis: M. Apriani
Editor: Pahala Simanjuntak