Raih IPK 3.70, Satika Simamora : Ulos Merupakan Maha Karya Bagi Wanita Batak

Ads Pemkot Makassar

Taput, MPOL:Raih Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3.70 saat meraih gelar Magister Managemen (MM) dari Universitas Nomensen, Satika Simamora mengatakan, bahwa Ulos yang merupakan maha karya wanita Batak menjadi thesis meja hijaunya.

” Hal itu tercipta sebagai bentuk dan wujud kecintaan kepada Tenun ulos, karena dari awal pembuatannya mulai memintal benang hingga menjadi suatu ulos terdapat jiwa gotong royong,” ungkap Satika Simamora kepada sejumlah wartawan, Jumat (20/11/2020).

Itulah yang memotivasi saya kembali ke bangku kuliah untuk mengambil pasca sarjana.


Intinya, raihan gelar Magister Managemen tujuannya dalam rangka mendukung visi misi Tapanuli Utara, yaitu menciptakan lumbung Sumber Daya Manusia yang berkualitas, inovatif dan kreatif.

” Ilmu yang saya dapatkan saat mengikuti bangku perkuliahan dapat saya terapkan dalam membantu tugas sebagi istri Bupati Taput Drs.Nikson Nababan,” tegasnya.

Melalui ilmu yang saya terima selama dua tahun di bangku kuliah dapat saya tularkan ataupun berbagi kepada siapa yang membutuhkan dan kapan saja. Karena ilmu itu jika tidak dibagi akan sia-sia serta kurang manfaatnya.

Kata Satika, walaupun di usia yang tidak muda lagi yakni menjelang usia 50 tahun, tetap semangat dan tidak menjadikan faktor yang melekat menjadi hambatan.

” Justru saya semakin semangat dan ingin menunjukkan bagi generasi muda, usia dan kesibukan saya selaku istri Bupati tidak menjadi penghalang untuk menggapai ilmu,” tukasnya.

Seputar judul Thesis yang diseminarkannya secara virtual kemarin kepada dua dosen penguji Prof.Dr.Pasaman Silaban,MSBS dan Dr.Ferry Panjaitan,SE,MSi, Ketua TP PKK tersebut angkat bicara secara gamblang.

” Ulos bisa saya sebut Masterpiece atau Maha Karya yang dikerjakan mayoritas wanita kaum Batak,” imbuhnya.

Alasan saya, ketika saya Mlmelihat kegigihan kaum Ibu Batak yang bergelut sebagai penenun, ada niat saya ingin bisa membantu mereka agar lebih sejahtera.

” Saya sudah lakukan diawal sebagai Ketua Dekranasda, dimana ada 6000 Petenun Ulos binaan agar bisa membangkitka sektor ekonomi dan kesejahteraan pengerajin tersebut. Terlebih lagi dimasa Pendemi, Kita dituntut berkreasi apalagi diawal pesta-pesta tidak diperbolehkan sehingga Petenun sangat terdampak,” sebutnya.

Dimana, kreasi dan kreatifitas yang dilakukannya yakni memproduksi Masker Ulos yang saat ini sudah menggaung dimana-mana.

” Jadi bahan bakunya adalah Ulos yang dikerjakan Petenun, namun kita minta Ulos tenunan yang sesuai selera pasar dan fit disounding bahan baku Masker Ulos. Dan lihat sendiri sudah banyak yang memakai bukan hanya kita tapi dari luar. Inilah yang saya katakan membangkitkan sektor ekonomi,” aku Satika Simamora.

Selain itu, jika terus dilakukan serta melakukan kreasi maupun inovasi bagi Ulos sebagi salah satu cara melestarikannya.

Kita harus lestarikan Ulos sebagai ikon tradisi masyarakat suku batak dan tidak akan lekang sampai kapanpun oleh zaman.

Secara luas disampaikannya, sejauh mana pengetahuannya tentang ulos yakni Ulos merupakan mahakarya Indonesia yang berasal dari salah satu peradaban tertua di Asia sejak 4.000 tahun lalu, yaitu kebudayaan Batak.

Ulos bahkan telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil. Di Batak, khususnya kawasan Danau Toba, ulos merupakan simbol adat yang dinilai sakral dan tradisinya masih dilestarikan. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Batak Angkola, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak/Dairi, Batak Simalungun, Batak Toba.

Menilik dari fungsi dan maknanya maka Ulos suku Batak merupakan sebuah identitas yang dimiliki oleh masyarakat di suku Batak dan menjadi ikon bagi masyarakat itu sendiri,

Ulos juga hasil benda budaya dari leluhur suku batak, suku batak melakukan pelestarian Ulos agar nilai budayanya terjaga dan tidak punah.

Pada proses pelestarian ulos suku Batak terdapat berbagai macam unsur kebudayaan di antaranya adalah adanya pengetahuan dan unsur seni dalam pembuatan produk tersebut.

Untuk melestarikan maha karya wanita Batak tersebut, kita sudah memfasilitasi tempat wisata tenun ulos dengan konsep kampung tenun Ulos. Sesuai dengan khas tenunan ulos masing masing suku batak itu sendiri. dan Para wisatawan yang mengunjungi kampung tenun ulos, bisa mengabadikan moment dengan menggunakan tenun Ulos dan pakaian adat suku Batak.

” Dengan menyediakan fasilitas alat penenun ulos batak yang bisa di manfaatkan oleh pengunjung kampung tenun ulos sehingga pengunjung dapat mencoba menenun tenun ulos Batak secara langsung dan sekaligus menambah wawasan tentang tenun ulos Batak,” derainya.**