Gubernur NA Minta Perkuat Senergi Tangani Covid-19 di Makassar

MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah bertandang ke Posko Covid-19 Kota Makassar di Jl Nikel, Senin kemarin.

Ia disambut Penjabat Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin. Gubernur Nurdin meminta seluruh struktur Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Makassar lebih memperkuat sinergi hingga ke tingkatan paling terbawah.

Menurutnya, jika persoalan Pandemi bisa teratasi di Makassar, maka 90 persen persoalan Covid-19 dinyatakan selesai di Sulawesi Selatan.

“Jika seluruh struktur penanganan Covid-19 bekerja maksimal, memperkuat sinergi baik di jajaran hingga tingkat RT/RW. Saya begitu yakin ini tidak begitu sulit untuk kita kendalikan,” kata NA dalam rilisnya, Selasa (22/9/2020).

Ia mencontohkan penggunaan masker saja, jika mampu dimassifkan penggunaannya hingga angka 90 persen oleh warga, maka itu akan membawa perubahan yang sangat besar dari segi penurunan angka yang terpapar.

Gubernur NA menilai, Sulsel perlu mengantisipasi kasus-kasus yang terjadi di Jakarta. Misalnya agar klaster perkantoran tidak terjadi.

“Justru kantor itu lebih cendrung tinggi penularan dibandingkan ruangan terbuka. Oleh karena itu di ruangan pun kita tetap pakai masker,” ujarnya.

Pada kesempatan ini NA dengan sejumlah pejabat Kota Makassar, camat dan juga petugas gugus tugas.

Ia juga mendengarkan pemaparan angka-angka terbaru penyebaran virus di Kota Makassar oleh Ketua Tim Epidemiologi Covid-19 Makassar dari Universitas Hasanuddin, Ansariadi.

Sementara itu, Pj Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin mengatakan pihaknya saat ini masih massif melakukan tracing dan testing dengan Swab massal disejumlah titik yang dianggap memiliki pola penyebaran virus yang cukup tinggi.

“Kita sudah lakukan tes PCR secara massal di enam kecamatan episentrum dengan jumlah 2.500 tes. Ini terus kita lanjutkan hingga mencapai jumlah 5.000 tes,” ujarnya.

Grafik kenaikan angka yang terpapar Covid-19 akhir-akhir ini diakui oleh Prof Rudy diakibatkan karena beberapa ruang aktifitas warga yang dibuka, termasuk cafe dan pesta pernikahan dimana masih terdapat sejumlah pelanggaran dari aspek protokol kesehatan.

“Mestinya memang, jika tingkat keterpaparan virus semakin menurun, protokol kesehatan covid-19 diterapkan lebih ketat. Apalagi saat ini kita sudah memasuki tahapan Pilkada, perkumpulan-perkumpulan massa kembali terlihat, seperti pada tahap pendaftaran kemarin. Kita berharap itu tidak terulang pada tahapan berikutnya,” jelasnya.