oleh

Mantap, Pulang Kerja Kasubag Protokol Luwu Utara Jadi Petani Sayuran

-Galeri-18 views

Luwu Utara l Bertani itu bukan hanya dilakukan profesi petani, tapi bisa juga dilakukan seorang ASN. Tren bertani juga tidak lagi dimiliki para orang tua atau profesi warisan orang tua. Bertani kini menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Penghasilan bertani  mampu menyaingi gaji PNS dan pegawai swasta. Tidak heran jika bertani kini menjadi sebuah profesi yang diminati oleh kaum muda.

Hal ini diungkapkan Kasubag Protokol Setda Luwu Utara Abdul Hamid, Sulawesi-Selatan(Sulsel), salah satu sosok Pegawai Negeri Sipil Kasubag Protokoler, jadi petani sayur dan tidak bisa dianggap sebelah mata. Abdul Hamid yang akrab disapa Igho’ merupakan seorang tokoh pemuda tani yang berjuang di sektor pertanian dan berdomisili di Kampung Sa’pek, Kelurahan Bone Kecamatan Masamba, Lutra. Kerja kerasnya mampu menunjukkan petani itu adalah profesi yang menjanjikan.

Igho’ banyak belajar mengenai pertanian secara otodidak. Ia rajin mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan maupun lembaga atau perusahaan yang kompeten dengan dunia pertanian.

Kemarin Igho’ memanen sayur-sayurannya, ia mengundang Alauddin Sukri Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Penyuluh Pertanian Lapangan(PPL) Muh Ilham untuk sekadar berbagi hasil panen sayurannya yang ia lakukan bersama teman-temannya di Humas dan Protokoler.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Alauddin Sukri pada media ini, Senin(7/10) bahwa apa yang dilakukan Kasubag protokol Lutra ini, adalah momen dan motivasi kepada teman teman lainnya di Bumi Lamaranginang julukan Kabupaten Luwu Utara.

” Alauddin Sukri menambahkan sangat menggembirakan apa yang dilakukan Igho’ bersama rekan-rekannya di Humas Protokoler, sayuran itu sangat membantu ibu-ibu rumah tangga dalam pemenuhan gizi keluarga dan terbebas dari pestisida,” terang Kadis Ketahanan Pangan.

Alauddin Sukri mengapresiasi apa yang dilakukan Kasubag Protokoler, disini cukup beragam tanaman sayuran ada tomat, sayur kangkung, bayam, sawi, terong, labu dan pare, jagung manis, ketimun, kacang panjang, yah lengkap sudah sayuran dipekarangan rumah Igho’.

Sementara Igho menerangkan juga, menurutnya sebagai pemuda penerus bangsa, kita bisa lebih terbuka dalam bidang pertanian. Pertanian sebuah profesi dengan masa depan yang baik, pengaturan waktu dan kerja sendiri, serta penghasilan yang bagus.

“Pasar dalam negeri masih membutuhkan. Peluang di pasar ekspor juga masih terbuka luas. Indonesia harus jadi lumbung pangan dunia,” tutur Igho’.

Bermodal pengalaman dan pengetahuan, tanaman sayuran bisa menjadi ladang bisnis yang menguntungkan, berkelanjutan dan berkesinambungan. Bahkan dirinya akan meregenerasi anak – anak muda di sekitarnya untuk giat bertani.  “Ini adalah panggilan hati saya. Dulu orang bertani karena keturunan. Sekarang saya sendiri mengembangkan dan memilih jadi petani setelah pulang kerja,” ucapnya.

“Kalau lahan pertanian dipekarangan rumah tidak digunakan untuk bertani maka lahan yang ada lama – lama bisa habis. Inilah kesempatan menghancurkan doktrin negatif bertani sulit kaya. Bertani bisa sukses. Sayang kalau sarjana pertanian tapi tidak bertani,” pesannya.

Laporan (yustus)

Komentar

News Feed